...........|| Jumat, 26 Juni 2009 ||

Perkembangan Lansia


Bismillahirrahmanirrahim….

Mata kuliah Perkembangan Dewasa Lansia…belajar bagaimana tahap – tahap perkembangan di tiap masanya…dan kali ini saya ingin berbagi tentang tahap perkembangan di masa lansia…yaitu perkembangan kognitifnya, psikososialnya dan beberapa teori proses penuaan…monggoo….

1. Perkembangan Kognitif Lansia

Kemampuan Belajar (Learning)

Lanjut usia yang yang sehat dalam arti tidak mengalami demensia atau gangguan Alzemeir, masih memiliki kemampuan belajar yang baik. Hal ini sesuai dengan prinsip belajar seumur hidup (long study) bahwa manusia itu memiliki kemampuan untuk belajar sejak dilahirkan sempai akhir hayat. Oleh karena sudhk seyogyanya jika mereka tetap diberikan kesempatan untuk mempelajari sesuatu hal yang baru.

Kemampuan Pemahaman (Comprehension)

Pada lanjut usia, kemampuan pemahaman atau menangkap pengertian dipengaruhi oleh fungsi pendengarannya. Dalam pelayanan terhadap lanjut usia agar tidak timbul salah paham sebaiknya dilakukan kontak mata; saling memandang. Dengan kontak mata, mereka akan dapat membaca bibir lawan bicaranya, sehingga penurunan pendengarannya dapat diatasi dan dapat lebih mudah memahami maksud orang lain.

Kinerja (Performance)

Pada lanjut usia yang sangat tua memang akan terlihat penurunan kinerja baik secara kuantitatif maupun kualitatif. Penurunan itu bersifat wajar sesuai perubahan organ-organ biologis ataupun perubahan yang sifatnya patologis. Dalam pelayanan kesehatan jiwa lanjut usia, mereka perlu diberikan latihan-latihan ketrampilan untuk tetap mempertahankan kinerja.

Pemecahan Masalah (Problem Solving)

Pada lanjut usia masalah-masalah yang dihadapi tentu semakin banyak. Banyak hal yang dahulunya dengan mudah dapat dipecahkan menjadi terhambat karena terjadi penurunan fungsi indra pada lanjut usia. Hambatan yang lain dapat berasal dari penurunan daya ingat, pemahaman dan lain-lain, yang berakibat bahwa pemecahan masalah menjadi lebih lama.

Daya Ingat (Memory)

Daya ingat adalah kemampuan psikis untuk menerima, mencamkan, menyimpan dan menghadirkan kembali rangsangan/peristiwa yang pernah dialami seseorang. Pada lanjut usia, daya ingat merupakan salah satu fungsi kognitif yang seringkali paling awal mengalami penurunan. Pada lanjut usia yang menderita demensia, gangguan yang terjadi adalah mereka tidak dapat mengingat peristiwa atau kejadian yang baru dialami, akan tetapi hal-hal yang telah lama terjadi, masih diingat. Keadaan ini sering menimbulkan salah paham dalam keluarga. Oleh sebab itu dalam proses pelayanan terhadap lanjut usia, sangat perlu dibuatkan tanda-tanda atau rambu-rambu baik berupa tulisan, atau gambar untuk membantu daya ingat mereka.

Motivasi

Pada lanjut usia, motivasi baik kognitif maupun afektif untuk mencapai/memperoleh sesuatu cukup besar, namun motivasi tersebut seringkali kurang memperoleh dukungan kekuatan fisik maupun psikologis, sehingga hal-hal diinginkan banyak berhenti di tengah jalan.

Pengambilan Keputusan

Pengambilan keputusan pada lanjut usia sering lambat atau seolah-olah terjadi penundaan, oleh sebab itu, mereka membutuhkan petugas atau pendamping yang dengan sabar sering mengingatkan mereka. Keputusan yang diambil tanpa dibicarakan dengan mereka, akan menimbulkan kekecewaan dan mungkin dapat memperburuk kondisinya. Oleh karena itu dalam pengambilan keputusan, kaum tua tetap dalam posisi yang dihormat

Kebijaksanaan

Bijaksana (wisdom) adalah aspek kepribadian (personality), merupakan kombinasi dari aspek kognitif, afektif dan konatif. Kebijaksanaan menggambarkan sifat dan sikap individu yang mampu mempertimbangkan antara baik dan buruk serta untung ruginya sehingga dapat bertindak secara adil atau bijaksana. Kebijaksanaan sangat tergantung dari tingkat kematangan kepribadian seseorang. Atas dasar hal tersebut, dalam melayani lanjut usia termasuk psikogeriatik mereka harus memperoleh pelayanan yang penuh bijaksana sehingga kebijaksanaan yang ada pada masing-masing individu yang dilayani tetap terpelihara.

2. PERKEMBANGAN PSIKOSOSIAL LANSIA

Integritas ego vs putus asa -- dewasa akhir (65 tahun keatas)

· indikator positif : penerimaan kehidupan pribadi sebagai sesuatu yang berharga dan unik. Siap menerima kematian

· indikator negatif : perasaan kehilangan, jijik terhadap orang lain.

· Masa lansia dapat melihat ke belakang dengan rasa puas dan penerimaan hidup dan kematian

· Resolusi (pencapaian) yang tidak berhasil dalam krisis ini bisa menghasilkan perasaan putus asa karena individu melihat kehidupan sebagai bagian dari ketidakberuntungan, kekecewaan dan kegagalan.

Tipe Kepribadian Konstruktif (Construction personalitiy), biasanya tipe ini tidak banyak mengalami gejolak, tenang dan mantap sampai sangat tua.

Tipe Kepribadian Mandiri (Independent personality), pada tipe ini ada kecenderungan mengalami post power sindrome, apalagi jika pada masa lansia tidak diisi dengan kegiatan yang dapat memberikan otonomi pada dirinya.

Tipe Kepribadian Tergantung (Dependent personalitiy), pada tipe ini biasanya sangat dipengaruhi kehidupan keluarga, apabila kehidupan keluarga selalu harmonis maka pada masa lansia tidak bergejolak, tetapi jika pasangan hidup meninggal maka pasangan yang ditinggalkan akan menjadi merana, apalagi jika tidak segera bangkit dari kedukaannya.

Tipe Kepribadian Bermusuhan (Hostility personality), pada tipe ini setelah memasuki lansia tetap merasa tidak puas dengan kehidupannya, banyak keinginan yang kadang-kadang tidak diperhitungkan secara seksama sehingga menyebabkan kondisi ekonominya menjadi morat-marit.

Tipe Kepribadian Kritik Diri (Self Hate personalitiy), pada lansia tipe ini umumnya terlihat sengsara, karena perilakunya sendiri sulit dibantu orang lain atau cenderung membuat susah dirinya.

Perubahan yang Berkaitan Dengan Pekerjaan. Pada umumnya perubahan ini diawali ketika masa pensiun. Meskipun tujuan ideal pensiun adalah agar para lansia dapat menikmati hari tua atau jaminan hari tua, namun dalam kenyataannya sering diartikan sebaliknya, karena pensiun sering diartikan sebagai kehilangan penghasilan, kedudukan, jabatan, peran, kegiatan, status dan harga diri. Reaksi setelah orang memasuki masa pensiun lebih tergantung dari model kepribadiannya.

3. Teori-Teori Proses Menua
1. Proses individual
a. Tahap proses menua terjadi pada orang dengan usia berbeda
b. Masing-masing lanjut usia mempunyai kebiasaan yang berbeda
c. Tidak ada satu faktor pun ditentukan untuk mencegah proses menua
2. Teori-teori Genetik
a. Secara keturunan dan atau mutasi (somatic mutatic theory) setiap sel pada saatnya akan mengalami mutasi, sebagai contoh yang khas adalah mutasi dari pada sel-sel kelamin.
b. Pemakaian dan rusak, kelebihan usaha dan stress menyebabkan sl-sel tubuh lelah (terpakai).
c. Pengumpulan dari pigmen atau lemak dalam tubuh yang disebut teori akumulasi dari produk sisa, sebagai contoh adanya pigmen upo fructine di sel otot ja di sel otot jantung dan sel susunan saraf pusat pada orang lanjut usia yang mengakibatkan mengganggu fungsi sel itu sendiri.
d. Peningkatan jumlah kolagen dalam jaringan.
e. Tidak ada perlindungan terhadap radiasi, penyakit dan kekuurangan gizi.
f. Reaksi dari kekebalan sendiri (auto immune theory)
3. Teori Genetik Clock
Menurt teori ini menua telah terprogram secara genetic untuk spesies-spesies tertentu tiap 3 spesies yang telah berputar menurut replikasi sel bila jam kita akan meninggal dunia. Meskipun tanpa disertai kecelakaan lingkungan atau penyakit akhir kotastrofal.
4. Teori social
a. Teori interaksi social (Sosial Exchange Theory)
Menjelaskan mengapa lansiabertindak pada suatu situais tertentu yaitu atas dasar hal-hal yang dihargai masyarakat.
b. Teori penarikan diri (Disagagement Theory)
Dengan bertambahnya usia, seseorang berangsur-angsur mulai melepaskan diri dari kehidupan social, keadaan ini meningkatkan prose interaksi social lanjut usia menurun.
c. Teori aktifitas (Activity Theory)
Teori aktfitas dikembangkan oleh Palerma (1965) dan et all (1972) yang mengatakan bahwa penuaan tergantung dari bagaimana seseorang lansia merasakan kepuasan dalam melakkan aktifitas.
Pokok-pokok teori aktifitas yaitu :
1) Moral dan kepuasan berkaitan dengan interaksi sosial dan terlibat sepenuhnya dan lansia dimasyarakat.
2) Kehilangan peran akan menghilangkan kepuasan seseorang lansia.
d. Teori kesinambungan
Pokok-pokok teori kesinambungan :
1) Lansia tidak disarankan untuk dilepaskan peran ata harus aktif dalam proses penuaan akan tetapi ada pengalamannya dimasa lalu, dipilih peran apa yang harus dipertahankan atau yang dihilangkan.
2) Peran lansia yang tidak perlu diganti.
3) Lansia dimungkinkan untuk memilih berbagai macam adaptasi.
e. Teori perkembangan (Development Theory)
Pokok-pokok teori perkembangan :
1) Masalah merupakan saat lanjut usia merumuskan seluruh masa kehidupan.
2) Masa tua merupakan masa penyesuaian diri terhadap kenyataan social yang baru yaitu pension dan menduda.
3) Lanjut usia harus menyesuaikan diri akibat perannya yang berakhir di dalam keluarga, kehilangan identitas dan hubungan sosalnya.
f. Teori stratifikasi usia (Age Stratification Theory)
Pokok-pokok teiori stratifikasi :
1) Arti usia dan posisi kelompok usia bagi masyarakat
2) Terdapatnya transisis yang dialam oleh kelompok
3) Terdapatnya mekanisme pengalokasian peran di antara penduduk

Sumber : http://sampoernae.blogspot.com/2008/10/konsep-keluarga-lansia.html http://www.e-psikologi.com/epsi/lanjutusia_detail.asp?id=179

Hee…moga bermanfaat nggeh….^_^


 0 Comments:

Poskan Komentar

<< Home