...........|| Kamis, 25 Juni 2009 ||

Layanan Bimbingan dan Konseling

Bismillahirrahmanirrahim….

LAYANAN BIMBINGAN DAN KONSELING

Inti dari kegiatan Bimbingan dan Konseling adalah pemberian layanan oleh seorang konselor kepada konseli dengan tujuan agar konseli dapat mengaktualisasikan dirinya. Untuk setiap layanan dan kegiatan Bimbingan dan Konseling dalam makalah ini menyajikan uraian tentang pengertian dan tujuan, pokok-pokok layanan kegiatan kemungkinan pelaksanaan dan hal-hal khusus yang perlu diperhatikan dalam layanan itu sendiri. Dari uraian ini diharapkan calon konselor mmmmemperoleh pengetahuan yang dapat dijadikan dasar dan titik tolak pemberian konseling.

A. Layanan Orientasi

Layanan orientasi adalah layanan bimbingan yang dilakukan untuk memperkenalkan siswa baru dan atau seseorang terhaadap lingkungan yang baru dimasukinya.

1. Layanan Orientasi Sekolah

Bagi siswa, ketidakkenalan atau ketidaktahuannya terhadap lingkungan lembaga pendidikan (sekolah) yang baru dimasukinya itu dapat memperlambat kelangsungan proses belajarnya kelak. Allan & Mckean (1984) menunjukkan beberapa hal yang perlu mendapat perhatian, yaitu :

a. Program orientasi yang efektif mempercepat proses adaptasi dan juga memberikan kemudahan untuk mengembangkan kemampuan memecahkan masalah.

b. Murid-murid yang mengalami masalah penyesuaian ternyata kurang berhasil di sekolah.

c. Anak-anak dari kelas sosio-ekonomi yang rendah memerlukan waktu yang lebih lama untuk menyesuaikan diri daripada anak-anak dari kelas sosio-ekonomi yang lebih tinggi.

Materi orientasi yang mendapat penekanan untuk lingkungan sekolah :

a. Sistem penyelengaraan pendidkan pada umumnya

b. Kurikulum yang ada

c. Penyelenggaraan pengajaran

d. Kegiatan belajar siswa yang diharapkan

e. Sistem penilaian, ujian, dan kenaikan kelas

f. Fasilitas dan sumber belajar yang ada

g. Fasilitas penunjang

h. Staf pengajar dan tata usaha

i. Hak dan kewajiban siswa

j. Organisasi siswa

k. Organisasi orang tua siswa

l. Organisasi sekolah secara menyeluruh.

2. Metode Layanan Orientasi Sekolah

Keleluasaan dan kedalaman masing-masing pokok materi di atas yang disampaikan kepada siswa disesuaikan dengan jenjang sekolah dan tingkat perkembangan anak. Untuk anak-anak yang segera akan memasuki SLTP, Allen & Mckean menyarankan berbagai kegiatan :

a. Kujungan ke SD pemasok

Petugas dari SLTP mengunungi SD-SD yang para lulusannya akan memasuki SLTP tersebut.

b. Kunjungan ke SLTP pemesan

Murid-murid SD kelas tinggi mengunjungi SLTP yang akan mereka masuki.

c. “Malam” pertemuan dengan orang tua

Orang tua murid baru diundang menghadirisuatu pertemuan untuk beramah-tamah dengan staf sekolah dan menerima penjelasan tentang hal-hal tempat anak mereka belajar.

d. Staf konselor bertemu dengan guru membicarakan siswa-siswa baru

Dengan guru-guru konselor membicarakan materi orientasi dan cara-cara penyampaiannya kepada siswa.

e. Mengunjungi kelas

Konselor berkeliling mengunjungi kelas-kelas murid baru.

f. Memanfaatkan siswa-senior

Setiap siswa baru diberi kawan pendamping untuk menjelaskan dan membantu siswa baru itu mengenai segala hal yang berhubungan dengan sekolah barunya itu.

3. Layanan Orientasi di Luar sekolah

Demikian juga individu-individu yang memasuki lingkungan baru di luar memerlukan orientasi tentang lingkungan barunya itu. Cara penyajian orientasi di luar sekolah sangat tergantung pada jenis orientasi yang diperlukan dan siapa yang memerlukannya.

B. Layanan Informasi

Memberikan pemahaman kepada individu-individu yang berkepentingantentang berbagai hal yang diperlukan untuk menjalani suatu tugas atau kegiatan atau untuk menentukan arah suatu tujuan atau rencana yang dikehendaki.

3 alasan utama mengapa pemberian informasi perlu diselenggarakan,antara lain:

a) Membekali individu dengan berbagai pengetahuan tentang lingkungan yang diperlukan untuk memecahkan maslaah yang dihadapi berkenaan dengan lingkungna sekitar, pendidikan, jabatan, maupun sosial budaya.

b) Memungkinkan individu menentukan arah hidupnya “kemana dia ingin pergi”

c) Setiap individu adalah unik

1. Jenis-jenis informasi

a. Informasi pendidikan.

Dalam bidang pendidikan banyak individu yang berstatus siswa atau calon siswa yang dihadapkan pada kemungkinan timbulnya masalah atau kesulitan. Maslaah atau kesulitan tersebut berhubungan dengan :

1. pemilihan program studi

2. pemilihan sekolah, fakultas, dan jurusan

3. penyesuaian diri dengan program studi

4. penyesuain diri terhadap suasana belajar

5. putus sekolah

b. Informasi jabatan

saat-saat transisi dari dunia pendidikan ke dunia kerja sering merupakan masa yang sulit bagi banyak orang muda. Kesulitan itu terletak tidka saja dalam mendapat pekerjaan yang cocok tetapi juga dalam penyesuain diri dalam suasana kerja yang baru dimasuki dan pengembangan diri selanjutnya.

c. Informasi sosial budaya

Manusia yang bersuku-suku dan berbangsa-bangsa bukan untuk saling bersaing dan saling bermusuhan tapi untuk saling mengenal, saling memberi dan menerima sehingga tercipta kondis yang dinamis yang mendorong kehidupan manusia itu berubah, berkembang, dan maju.

2 . Metode Layanan Informasi di sekolah, antara lain :

a. Ceramah

b. Diskusi

c. karya wisata

d. Buku Panduan

e. Konferensi karir

3. Layanan Informasi di Luar sekolah

Cara-cara penyajian informasi kepada warga masyarakat, sebagaimana cara-cara penyajian orientasi, juga amat tergantung pada jenis informasi yang diperlukan dan siapa yang memerlukannya. Kembali, peranan berbagai lembaga yang ada dimasyarakat baik yang diselenggarakan oleh pemerintah ataupun swasta atas prakarsa masyarakat sendiri, termasuk didalamnya LBH, puskesmas, biro perjalanan, kursus-kursus, pusat-pusat pengembangan ketrampilan dan pemberian jasa perlu ditonjolkan.

C. Layanan Penempatan dan Penyaluran

Individu sering mengalami kesulitan dalam menentukan pilihn, sehingga tidak sedikit individu yang bakat, kemampuan ninat dan hobinya tidak tersalurkan dengan baik. Individu seperti itu tidak mencapai perkembangan secara optimal. Mereka memerlukan bantuan atau bimbingan dari orang-orang dewasa, terutama konselor, dalam menyalurkan potensi dan mengembangkan dirinya.

Di sekolah banyak wadah dan kegiatan yang dapat dimanfaatkan untuk pengembangan bakat, kemampuan dan minat serta hobi, misalnya kegiatan kepramukaan, Palang Merah Remaja, kelompok pecinta alam, kegiatan kesenian, olahraga, kelompok-kelompok belajar dan sebagainya.

1. Penempatan dan penyaluran siswa di sekolah.

a. Layanan penempatan di dalam kelas

b. Penempatan dan penyaluran kedalam kelompok belajar

c. Penempatan dan penyaluran kedalam Kegiatan ko/ekstra kurikuler

d. Penempatan dan penyaluran ke jurusan/program study.

2. Penempatan dan penyaluran Lulusan.

a. Penempatan dan penyaluran kedalam pendidikan lanjutan

b. Penempatan dan penyaluran kedalam Jabatan atau pekerjaan

D. Layanan Bimbingan Belajar

Layanan Bimbingan Belajar melalui tahap-tahap,sbb :

1. Pengenalan Siswa yang Mengalami Masalah Belajar

Kesulitan belajar siswa mencakup pengetian yang luas, diantaranya : (a) learning disorder; (b) learning disfunction; (c) underachiever; (d) slow learner, dan (e) learning diasbilities.

a. Learning Disorder atau kekacauan belajar adalah keadaan dimana proses belajar seseorang terganggu karena timbulnya respons yang bertentangan. Pada dasarnya, yang mengalami kekacauan belajar, potensi dasarnya tidak dirugikan, akan tetapi belajarnya terganggu atau terhambat oleh adanya respons-respons yang bertentangan, sehingga hasil belajar yang dicapainya lebih rendah dari potensi yang dimilikinya. Contoh : siswa yang sudah terbiasa dengan olah raga keras seperti karate, tinju dan sejenisnya, mungkin akan mengalami kesulitan dalam belajar menari yang menuntut gerakan lemah-gemulai.

b. Learning Disfunction merupakan gejala dimana proses belajar yang dilakukan siswa tidak berfungsi dengan baik, meskipun sebenarnya siswa tersebut tidak menunjukkan adanya subnormalitas mental, gangguan alat dria, atau gangguan psikologis lainnya. Contoh : siswa yang yang memiliki postur tubuh yang tinggi atletis dan sangat cocok menjadi atlet bola volley, namun karena tidak pernah dilatih bermain bola volley, maka dia tidak dapat menguasai permainan volley dengan baik.

c. Under Achiever mengacu kepada siswa yang sesungguhnya memiliki tingkat potensi intelektual yang tergolong di atas normal, tetapi prestasi belajarnya tergolong rendah. Contoh : siswa yang telah dites kecerdasannya dan menunjukkan tingkat kecerdasan tergolong sangat unggul (IQ = 130 – 140), namun prestasi belajarnya biasa-biasa saja atau malah sangat rendah.

d. Slow Learner atau lambat belajar adalah siswa yang lambat dalam proses belajar, sehingga ia membutuhkan waktu yang lebih lama dibandingkan sekelompok siswa lain yang memiliki taraf potensi intelektual yang sama.

e. Learning Disabilities atau ketidakmampuan belajar mengacu pada gejala dimana siswa tidak mampu belajar atau menghindari belajar, sehingga hasil belajar di bawah potensi intelektualnya.

2. Upaya membantu siswa yang mengalami masalah belajar, antara lain :

a. Pengajaran Perbaikan

b. Kegiatan pengayaan

c. Peningkatan Motivasi belajar

d. Pengembangan sikap dan kebiasaan Belajar yang baik

E. Layanan Konseling Individual

Dari beberapa jenis layanan Bimbingan dan Konseling yang diberikan kepada peserta didik, tampaknya untuk layanan konseling perorangan perlu mendapat perhatian lebih. Karena layanan yang satu ini boleh dikatakan merupakan ciri khas dari layanan bimbingan dan konseling, yang membutuhkan pengetahuan dan keterampilan khusus

Dalam prakteknya, memang strategi layanan bimbingan dan konseling harus terlebih dahulu mengedepankan layanan – layanan yang bersifat pencegahan dan pengembangan, namun tetap saja layanan yang bersifat pengentasan pun masih diperlukan. Oleh karena itu, guru maupun konselor seyogyanya dapat menguasai proses dan berbagai teknik konseling, sehingga bantuan yang diberikan kepada peserta didik dalam rangka pengentasan masalahnya dapat berjalan secara efektif dan efisien.

Secara umum, proses konseling terdiri dari tiga tahapan yaitu: (1) tahap awal (tahap mendefinisikan masalah); (2) tahap inti (tahap kerja); dan (3) tahap akhir (tahap perubahan dan tindakan).

A. Tahap Awal

Tahap ini terjadi dimulai sejak klien menemui konselor hingga berjalan sampai konselor dan klien menemukan masalah klien. Pada tahap ini beberapa hal yang perlu dilakukan, diantaranya :

* Membangun hubungan konseling yang melibatkan klien (rapport). Kunci keberhasilan membangun hubungan terletak pada terpenuhinya asas-asas bimbingan dan konseling, terutama asas kerahasiaan, kesukarelaan, keterbukaan; dan kegiatan.

* Memperjelas dan mendefinisikan masalah. Jika hubungan konseling sudah terjalin dengan baik dan klien telah melibatkan diri, maka konselor harus dapat membantu memperjelas masalah klien.

* Membuat penaksiran dan perjajagan. Konselor berusaha menjajagi atau menaksir kemungkinan masalah dan merancang bantuan yang mungkin dilakukan, yaitu dengan membangkitkan semua potensi klien, dan menentukan berbagai alternatif yang sesuai bagi antisipasi masalah.

* Menegosiasikan kontrak. Membangun perjanjian antara konselor dengan klien, berisi : (1) Kontrak waktu, yaitu berapa lama waktu pertemuan yang diinginkan oleh klien dan konselor tidak berkebaratan; (2) Kontrak tugas, yaitu berbagi tugas antara konselor dan klien; dan (3) Kontrak kerjasama dalam proses konseling, yaitu terbinanya peran dan tanggung jawab bersama antara konselor dan konseling dalam seluruh rangkaian kegiatan konseling.

B. Inti (Tahap Kerja)

Setelah tahap Awal dilaksanakan dengan baik, proses konseling selanjutnya adalah memasuki tahap inti atau tahap kerja.

Pada tahap ini terdapat beberapa hal yang harus dilakukan, diantaranya :

* Menjelajahi dan mengeksplorasi masalah klien lebih dalam. Penjelajahan masalah dimaksudkan agar klien mempunyai perspektif dan alternatif baru terhadap masalah yang sedang dialaminya.

* Konselor melakukan reassessment (penilaian kembali), bersama-sama klien meninjau kembali permasalahan yang dihadapi klien.

* Menjaga agar hubungan konseling tetap terpelihara.

Hal ini bisa terjadi jika :

* Klien merasa senang terlibat dalam pembicaraan atau waancara konseling, serta menampakkan kebutuhan untuk mengembangkan diri dan memecahkan masalah yang dihadapinya.

* Konselor berupaya kreatif mengembangkan teknik-teknik konseling yang bervariasi dan dapat menunjukkan pribadi yang jujur, ikhlas dan benar – benar peduli terhadap klien.

* Proses konseling agar berjalan sesuai kontrak. Kesepakatan yang telah dibangun pada saat kontrak tetap dijaga, baik oleh pihak konselor maupun klien.

C. Akhir (Tahap Tindakan)

Pada tahap akhir ini terdapat beberapa hal yang perlu dilakukan, yaitu :

* Konselor bersama klien membuat kesimpulan mengenai hasil proses konseling.

* Menyusun rencana tindakan yang akan dilakukan berdasarkan kesepakatan yang telah terbangun dari proses konseling sebelumnya.

* Mengevaluasi jalannya proses dan hasil konseling (penilaian segera).

* Membuat perjanjian untuk pertemuan berikutnya

Pada tahap akhir ditandai beberapa hal, yaitu ; (1) menurunnya kecemasan klien; (2) perubahan perilaku klien ke arah yang lebih positif, sehat dan dinamis; (3) pemahaman baru dari klien tentang masalah yang dihadapinya; dan (4) adanya rencana hidup masa yang akan datang dengan program yang jelas.

F. Layanan Bimbingan kelompok

Bimbingan kelompok adalah layanan bimbingan yang diberikan dalam suasana kelompok. Gazda (1978) mengemukakan bahwa bimbingan kelompok di sekolah merupakan kegiatan informasi pada sekelompok siwa untuk membantu mereka menyusun rencana dan keputusan yang tepat. Gazda juga menyebutkan bahwa bimbingan kelompok diselenggarakan untuk memberikan informasi yang bersifat personal , vokasional dan sosial. Telah lama dikenal bahwa berbagai informasi berkenaan dengan orientasi siswa baru, pindah program dan peta sosiometri siswa serta bagaimana mengembangkan hubungan antar siswa dapat disampaikan dan dibahas dalam bimbingan kelompok(mc Daniel,1956).Dengan demikian jelas bahwa kegiatan dalam bimbingan kelompok ialah pemberian informasi untuk keperluan tertentu bagi para para anggota kelompok.

Kalau dianalisis, khususnya dalam kaitannya dengan unsur kelompok keempat unsur yang membentuk kelompok, maka dapat diketahui bahwa tujuan yang akan hendak dicapai oleh kelompok tersebut ialah menerima informasi. Lebih jauh, informasi itu akan digunakan untuk menyusun rencana dan membuat keputusan, atau untuk keperluan lain yang releven dengan informasi yang diberikan. Pemberian informasi itu kepada sejumlah siswa dan individu lainnya menelaah anggota kelompok itu.Siapakah yang memberikan informasi? Bisa guru, atau konselor, atau narasumber dari luar sekolah , atau bisa orang lain lagi yang ditunjuk oleh sekolah , atau diminta oleh para siswa.Si pemberi informasi itulah yang dalam hal ini disebut pemimpin kelompok. Sebagai pemimpin kelompok juga bertindak orang lain,misalnya ketua kelas yang mengarahkan teman- temannya untuk dapat menerima informasi itu dengan baik. Selanjutnya pemberian /penerimaan informasi itu, agar dapat berjalan dengan lancar dan penuh manfaat,perlu mengikuti aturan tertentu .Apa yang dilakukan oleh Si pemberi dan Si penerima informasi perlu mengikuti aturan tertentu, bagaimana informasi itu diberikan dan bagaimana pula para siswa menerimanya, apakah boleh bertanya, apa yang harus dilakukan secara informasi diterima, dan sebagainya.

Dari gambaran diatas tampak adanya beberapa hal yang menunjukkan homogenitas dalam kelompok.pertama bimbingan kelompok para anggota kelompok homogen(yaitu siswa-siswa satu kelas atau satu tingkat kelas yang sama). Kedua, “masalah” yang dialami semua anggota kelompok adalah sama, yaitu memerlukan informasi yang yang akan disajikan itu.Ketiga, tindak lanjut dari diterimanya informasi itu juga sama, yaitu untuk menyusun rencana dan membuat keputusan.dan keempat, reaksi atau kegiatan yang dilakukan oleh para anggota dalam proses pemberian informasi (dan tindak lanjutnya)secara relatif sama(seperti mendengarkan, mencatat, bertanya). Ciri homogenitas inilah yang iktu menandai layanan bimbingan kelompok dan membedakannya dari konseling kelompok.

G. Konseling Kelompok

Layanan konseling kelompok pada dasarnya adalah layanan konseling perorangan yang dilaksanakan di dalam suasana kelompok.Disana ada konselor(yang jumlahnya mungkin lebih dari seorang)dan ada klien, yaitu para anggota kelompok(yang jumlahnya paling kurang dua orang)Disana terjadi hubungan konseling dalam suasana yang diusahakan sama seperti dalam konseling perorangan, yaitu hangat, terbuka, permisif, dan peuh keakraban. Dimana juga ada pengungkapan dan pemahaman masalah klien, penelusuran sebab- sebab timbulnya masalah, upaya pemecahan masalah (jika perlu dengan menerapkan metode- metode khusus),kegiatan evaluasi dan tindak lanjut.

Unsur- unsur konseling perorangan muncul secara nyata dalam konseling kelompok. Kalau demikian adanya, apa yang membedakan konseling kelompok dan konseling perorangan?satu hal yang paling pokokialah dinamika interaksi sosial yang dapat berkembang dengan intensif dalam suasana kelompok,yang justru tidak dijumpai dalam konseling perorangan.Peran konselor sebagai agen pembangunan dalam konseling perorangan diperkuat oleh peranan dinamika interaksi sosial dalam suasana kelompok.Dalam konseling perorangan klien hanya memetik manfaatdari hubungannya dengan konselor saja,dalam konseling kelompok klien memperoleh bahan- bahan bagi pengembangan diri dan pengentasan masalahnya baik dari konselor atau rekan- rekan anggota kelompok.Interaksi sosial yang secara intensif terjadi dalam suasana kelompok akan meningkatkan kemampuan komunikasi dan keterampilan sosial pada umumnya, meningkatkan kemampuan mengendalikan diri,tenggang rasa atau teposliro.tujuan yang didukung oleh konseling kelompok semua anggota kelompok ialah terpecahkannya masalah- masalah yang dialami oleh para anggota kelompok.anggota kelompok ialah sesama mereka yang mengikuti kegiatan konseling kelompok itu. Pemimpinnya ialah konselor.Sedagkan aturan yang diikuti ialah ketentuan berkenaan dengan pengembangan suasana interaksi yang akrab, hangat, permisif, terbuka.

Mengenai kondisi homogenitas dan heterogenitas yang terdapat didalam konseling kelompok dapat dilihat bahwa anggota kelompok sedapat- dapatnya homogendalam arti semua anggota kelompok diharapkan dapat menyumbangkan sesuatu dalam pengembangan dinamika interaksi sosial yang terjadi di dalam kelompok.untuk memasuki konseling kelompok para anggota atau klien pada awalnya tidak memerlukan persiapan tertentu.dengan demikian masalah yang akan mereka bawa masing- masing ke dalam kelompok besar kemungkinan berbeda- beda atau bahkan tidak bermasalah.Oleh karena itu akan muncul masalah yang berbeda- beda yang akan dibicarakan melalui dinamika interaksi sosial dalam kelompok itu.Mengenai masalah yang akan dibahas dalam konseling kelompok, konselor dapat menetapkan atau minta persetujuan dari anggota kelompok. Pengajuan masalah atau topik tunggal seperti itu dilakukan apabila tujuan utama konseling ialah pengembangan keterampilan komunikasi dan interaksi sosial para anggota.Satu hal yang perlu mendapat perhatian khusus ialah sifat isi pembicaraan dalam konseling kelompok.Masing- masing klien perlu mempercayai konselor dan rekan- rekan mereka sesama anggota kelompok,bahwa kerahasiaan segenap apa yang mereka kemukakan terjamin sepenuhnya.Sikap konselor dan para anggota serta suasana yang sepenuhnya sejalan dengan sass kerahasiaan itu merupakan salah satu aturan yang khas harus diikuti oleh seluruh warga kelompok, dan hal itu merupakan ciri khusus pula dari konseling kelompok

DAFTAR PUSTAKA

Drs. Dewa Ketut Sukardi. 1994. Pengantar pelaksanaan program bimbingan dan konseling di sekolah. Jakarta: Rineka Cipta.

Prof.Dr.H.Prayitno,M.Sc.Ed, Drs.Erman Amti. 2004. Dasar-Dasar Bimbingan dan Konseling. Jakarta: Rineka Cipta.

http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/01/25/kesulitan-dan-bimbingan-belajar/

http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/01/26/proses-layanan-konseling-individual/


 0 Comments:

Posting Komentar

<< Home